Posted by : agga arista Monday, August 12, 2013


Terlihat dari kejauhan seorang remaja tertawa kecil,adalah aku yang sedang duduk di serambi rumah ditemani sang netra yang masih setia menatap mentari yang mulai beringsut-ingsut menenggelamkan dirinya. Terdengar riuh merdu oleh sang rungu kicauan burung-burung kecil yang berterbangan kembali ke peraduannya. Saudara mudaku masih asik bermain dengan mainannya tanpa menghiraukan sekitar. Diseberang jalan aspal masih terlihat kokoh bangunan tempat dulu aku menuntut ilmu dasar. Biar orang mengatakan itu bangunan baru,namun masih tersusun rapi kenangan manisku 6 tahun yang lalu. Semua itu memaksaku untuk kembali memutar rekaman pengalamanku. Aku melihat ketimpangan antara kehidupan dasarku dengan kehidupan menengah atas yang sedang aku tapaki.
Pandanganku tertuju jauh menusuk langit cerah yang sebentar lagi akan digantikan peran oleh sang gelap. Mengintip bintang yang semakin gelap semakin garang memancarkan kemilau dirinya dan tidak akan pernah mau melebur dengan gelap. Berbeda jauh dengan kehidupan dibawah kaki langit masa ini. Semua orang dengan santainya berbondong-bondong berlenggang ke dalam kegelapan. Ketika putih menjadi minoritas, semua beramai-ramai menghakimi dan akhirnya sang putih lenyap. Di zaman yang dikata modern ini,semakin kecil peluang seseorang atau sekelompok orang yang ingin berpendapat bahwa mereka berbeda. Coba tengok saja, budaya berpacaran di negeri yang katanya loh jinawi ini semakin tidak karuan, ketika seorang pribadi mengatakan bahwa pacaran itu dilarang agama, mereka yang kontra selalu berkelit dan mencari alternatif untuk tetap bertahan pada pendiriannya. Tidak jarang mereka memutar balikkan fakta dalam agama agar mereka tidak dikatakan berdosa dengan caranya. mereka yang seperti itu beranggapan bahwa pacaran boleh asal tidak neko-neko dan tetap dalam koridor agama.hla wong agama aja udah nglarang,mana ada pacaran di bawah payungan agama. Aku menjadi teringat seorang kawan lamaku membicarakan ini dengan entengnya , “kata pak ustadz di daerahku,pacaran itu boleh kok,asal gak nglanggar agama”. Itulah putih melebur menjadi gelap. Seorang ustadz saja tidak mampu bertahan dalam minoritas bagaimana kita-kita yang masih sangat awam.
Udara disekitar mulai berubah dari hangat menjadi mulai dingin karena tiupan angin yang semakin mempertegas bahwa malam mulai datang. Lagi-lagi aku tertawa kecil , saudaraku mulai terusik dan berfikir bahwa aku menertawakannya.sejujurnya,aku bukan tertawa untuk tingkah adikku dalam konteks ini.aku menertawakan orang-orang di zaman ini. Rumor yang sangat santer dibicarakan di era ini adalah kiamat yang katanya semakin dekat. Jika aku diberi kesempatan untuk berpendapat, aku akan menuturkan bahwa aku percaya kiamat sangat semakin dekat. Bukan tanpa alasan,semenjak rumor ini mencuat melambung dan mengangkasa, orang-orang berbondong-bondong untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,katanya. Mereka,-sebenarnya aku juga termasuk-, selalu mengisi waktu  untuk bersembahyang,memejamkan mata,dibantu lisan yang dengan lembutnya memanjatkan doa-doa dan harapan,bersujud hingga dahi ini menghitam, namun tetap saja kita mengeksploitasi alam ini dengan seenaknya, membuang sampah sembarangan, hingga berseteru dengan sesama saudara sebangsa, bahkan tidak jarang dengan saudara sekeyakinanpun masih sangat rawan terjadi pergesekkan. Orang Indonesia yang dikata orang welcome, kini menjadi orang-orang dengan agresifitas tinggi, mementingkan golongan sendiri dan lama-kelamaan berubah menjadi individualis. Mereka yang ingin masuk surga menjadi lupa bahwa jalan ke-nirwana itu juga harus bertoleransi dengan sesama bukan malah memperuncing perbedaan dengan mengkotak-kotakkan siapa yang benar siapa yang salah. Hablum minallah,hablum minannas. Kini, yang dulu menjadi teman ,sekarang menjadi tak kenal.
Salah-satu tanda kiamat adalah terbitnya sang surya dari horizon barat. Namun, apakah yang dimaksud dengan terbitnya matahari dari arah barat adalah benar-benar ditafsirkan secara harfiah? Bagaimana dengan mode pakaian barat yang semakin melekat kedalam kebudayaan bangsa timur? Pakaian yang mempertegas kemolekan tubuh membuat birahi para hidung belang menjadi bertambah beringas. Bagaimana dengan sikap individualis yang semakin lama semakin menggerus sikap musyawarah,mufakat,gotong-royong bangsa Indonesia? Semua dilakukan dengan uang, bahkan sampai meminta airputih pun dihargai lima ratus perak. sekarang semua hal berkiblat ke bangsa barat . bangsa yang dianggap sebagai bangsa yang jauh lebih maju dari bangsa timur. Apakah kita tidak pernah berandai-andai jika yang dimaksudkan matahari terbit dari arah barat adalah semakin besarnya pengaruh  Negara barat terhadap Negara timur?  Jika itu benar adanya,sesungguhnya kita adalah orang-orang yang merugi.

Sumber gambar : Google

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Wikipedia

Search results

About Me

Klaten, Center of Java, Indonesia
kita berusaha, Allah Ta'ala yang memutuskan!
Powered by Blogger.

- Copyright © hanya opini bukan fitnah -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -